winter fades

—sejin, jinhyuk.

;

Musim dingin perlahan pergi. Salju yang semula menutupi seluruh tempat—mulai dari atap rumah hingga pepohonan dan trotoar jalan—kini hanya menyisakan lapisan putih yang tipis, yang tidak lagi terasa beku saat disentuh. Sejin menghentikan derap langkahnya sejenak, senyum mengembang saat tatap mata bersirobok dengan anjing lucu milik kakek di seberang apartemen. Ia menyapa kakek tetangganya tersebut, mengelus bulu-bulu halus anjing lucu si kakek sebelum melanjutkan perjalanan.

Dalam keheningan, Sejin memasukkan sandi apartemen. Lalu berjingkat-jingkat usai menutup pintu dengan usaha maksimal agar tidak menimbulkan bunyi apa pun. Ia tidak ingin membangunkan Jinhyuk yang saat ia pergi tadi, masihlah pulas tidur di kamar. Bantal bergambar figur Elsa dari film Frozen nyaman dipeluknya. Sejin mengintip ke dalam, dan benar saja, Jinhyuk masih terlelap dengan damai. Ulasan senyum kembali terkembang di raut Sejin yang memutuskan untuk mengabadikan momen itu. Beberapa foto Jinhyuk sukses tersimpan di memori ponsel Sejin. Bisa dijadikan bahan ledekan, batinnya terkekeh tanpa suara.

“Sejin ...?” Suara Jinhyuk serak memanggil, khas orang baru bangun tidur. Pandangan sayu menyambut Sejin saat berpaling dari ponsel di tangan. Sejin tidak menjawab. Pun Jinhyuk hanya terdiam, meski fokusnya sibuk mencermati Sejin. Begitu sadar penampilan pacarnya terlalu rapi untuk ukuran “di rumah saja”, Jinhyuk segera bangkit. Punggung ditumpukan ke sandaran kasur. “Lho ... kamu dari mana?”

Sejin duduk di sebelah Jinhyuk saat pemuda itu memberi gestur supaya mendekat. “Dari swalayan, beli bahan buat bikin sarapan.”

Jinhyuk mengernyitkan dahi. “Kok nggak ajak aku?” Tanyanya hampir terdengar seperti protes. Hampir membuahkan tawa dari Sejin.

“Kamu tidurnya pules banget gitu, aku mana tega.” Sejin membelai wajah Jinhyuk pelan. Menelusuri tulang pipi hingga jemarinya menemukan tempat di pundak Jinhyuk. “Lagian kemarin kamu lembur, kan. Pulang malem banget. Kamu butuh tidur banyak.”

Ya ampun.

Kalimat penuh perhatian Sejin barusan, walau Jinhyuk sudah sering jadi penerimanya, tidak pernah gagal membuat hatinya menghangat. Tidak pernah absen membuat debar jantungnya jadi lebih cepat. Ia tahu ia tampak seperti remaja baru puber dengan segala perasaan yang ia miliki terhadap Sejin, tapi Jinhyuk tidak kuasa membendungnya. Kalau kata anak zaman sekarang, sih, Jinhyuk bucin.

“Nggak papa aku dibangunin aja, Yang. Kan pengen nemenin kamu belanja.” Yap, betulan bucin. “Tapi makasih banyak, bunga matahariku. Nanti aku bantu bikin sarapan, ya.” Jinhyuk menepuk kepala Sejin penuh sayang, memeluk pacarnya sebagaimana ia memeluk bantal Elsa.

“Iya, iya.” Jawaban Sejin terdengar kecil, karena wajahnya masih direngkuh Jinhyuk. Sejin memiringkan kepala, membenarkan letak tubuhnya di pangkuan Jinhyuk sembari melanjutkan ucapan. “Kamu mandi dulu, gih. Biar aku nata belanjaan, tadi belom sempet.”

Masih dalam posisi yang sama, tidak jua melepas pelukan, Jinhyuk mengangguk. Sejin tidak melihat cengiran usil di raut Jinhyuk.

“Oke. Morning kiss dulu, dong?”