Sepasang lelaki itu membisu. Sama-sama tidak sudi mengalah. Sama-sama tidak mau mengaku salah. Buat keduanya, mereka tidak saling bertindak keliru. Hanya salah satu di antara mereka yang pantas meminta maaf, dan itu adalah—

Kamu, Sej.”

Kamu, Yon.”

Tatapan mereka bersirobok. Menelusuri dalamnya mata insan yang dipandang. Mencari binar entah apa, entah bagaimana bentuknya, yang bisa dijadikan pertanda kalau lawan bicara sudah menyerah.

Tapi, tidak ada.

Keduanya hanya mendapati keyakinan masing-masing diri sebagai pihak yang benar. Bahwa yang salah adalah kamu, bukan aku.

Seungyoun kemudian tampak menghela napas. Gundah mengental dalam parau suaranya, “Bisnis kamu, tuh ... akhir-akhir ini beneran kerasa makin kapitalis, Beb. Apa pun kayaknya kamu jual. Kamu jadiin uang,” ia menutur penuh hati-hati, namun pasti, “aku cuma ngerasa nggak sreg di situ.”

Dengus meremehkan dari Sejin menanggapi omongan Seungyoun tanpa memberi jeda. Tiada spasi tercipta sebelum Sejin ikut buka suara, “Namanya orang jualan, ya, emang harus begitu. Kalo enggak, aku nggak dapet untung.” Ia menipiskan bibir, menarik ujung-ujungnya ke atas. Seungyoun bisa melihat buncah emosi di balik ketenangan yang ditampilkan kekasihnya tersebut. Ujaran Sejin begitu tajam tatkala menandaskan, “Aku kan, jualan. Bukan lagi beramal.”

“Iya, tapi nggak dengan manfaatin kelemahan orang terhadap barang-barang lucu dalam kurun waktu singkat setelah perilisan produk kamu sebelumnya.”

“Apa, sih?” Sejin betul-betul bingung. “Kamu sadar, nggak, barusan kamu bilang apa?” Alis pemuda 25 tahun itu mengernyit.

Seungyoun mengedikkan bahu, tetap berpijak pada pendiriannya yang bikin Sejin tidak bisa menahan erangan dongkol.

“Yon, itu namanya strategi bisnis!! Ya ampun, aku pengen jerit rasanya,” Sejin mengacak rambut hampir frustrasi. Benaknya sungguh tidak mampu mencerna jalan pikir Seungyoun hingga tega menjatuhkan label kapitalis terhadap taktik bisnis tim pemasaran usaha niaga yang ia punya. “Aku harus rajin keluarin produk, supaya konsumen nggak lupa ada merek Marimong di dunia. Produk yang aku lempar ke pasaran juga pastinya nggak boleh sama terus, mesti berinovasi dan ngikutin tren supaya menarik.”

And that’s exactly why I call it capitalism.

“Terus kamu ngarepnya aku harus gimana? Nyumbangin seluruh hasil dagangan buat kesejahteraan masyarakat?”

Sunyi. Lama sekali.

“Kita—udahan aja, deh.”