“Lima tahun kita udah ngapain aja?”

Pertanyaan itu dilontarkan Sejin saat kincir ria yang mereka tumpangi berada tepat di posisi teratas. Biru sejauh mata memandang. Kombinasi biru muda langit yang cerah bertemu gelapnya biru lautan di ujung horizon. Ia memperhatikan bagaimana riak air terbias cahaya matahari, membuatnya jadi terlihat berkilau seperti kumpulan lampu kecil. Kontras warna pasir terlihat pula jika Sejin menundukkan kepala.

Indah.

“Hmm? Banyak, kan, Yang?” sahut Jinhyuk, sedikit terdengar bingung. Sejin hanya diam. Tidak serta-merta menjawab pertanyaan retoris barusan, sebab ia rasa Jinhyuk belum selesai berkata-kata. Benar saja, pacarnya kemudian membuka suara lagi. Tangannya diacungkan seperti akan menghitung. “Tahun pertama, aku diterima kerja. Terus bisa ngajak kamu makan di restoran mewah yang udah lama pengen kita coba, tapi nggak jadi-jadi.”

Tawa singkat terurai dari Sejin. Dicarinya sepasang mata Jinhyuk yang bersinar di bawah terik surya yang sebagian tak terhalang atap gondola. Jinhyuk balas menatapnya, ujung bibir sudah naik sedikit.

Ini juga indah.

“Di tahun kedua, bisnis kamu ngehit. Setelah sekian lama berjuang lewat berbagai platform medsos.” Sekarang senyum benar-benar terpatri di wajah Jinhyuk. Mata menyipit seiring mimik muka itu tercipta. “Aku seneng sekarang tiap kamu buka pre-order pasti rame pembeli. Sampe semua order line penuh, bikin ponsel kamu nge-lag.”

“Hehe.”

Hening sejenak. Jinhyuk mengangkat tiga jari tangan kiri. “Tahun ketiga kita bikin keputusan besar,” ujarnya mengambil jeda. Raut Jinhyuk berubah lebih serius, meski tetap tidak kehilangan senyum. “Kita nyewa apartemen bareng dari uang hasil nabung selama ini.”

Giliran Sejin tersenyum. Tangan kanan Jinhyuk yang menganggur ia raih. Ia bawa ke pangkuannya sendiri. “Keputusan yang tepat. Jadi bisa liat kamu tiap hari, nggak usah susah-susah janjian dulu.”

Jinhyuk menjalin jemari mereka, menelusukkan jarinya di antara sela jari Sejin. Menemukan bahwa dia pun sama seperti roman picisan cheesy karena terpikir bahwa celah antara jari mereka memang diciptakan untuk satu sama lain. Jinhyuk tertawa tanpa sempat ditahan, geli dengan dirinya sendiri. “Iya. Tiap pulang kerja bisa liat kamu tuh, salah satu hal yang selalu aku syukuri. Capekku langsung terobati.”

“Gombal gembel muluuu!”

Sebuah dorongan ringan di pundak menyebabkan Jinhyuk cengengesan. “Loh, beneran ini mah.” Dia mengelus tangan milik Sejin dengan ibu jarinya, laksana menggambar lingkaran. “Lanjut, ya. Tahun keempat lagi-lagi ada keputusan besar yang kita ambil—”

“Ngadopsi Gunbam.”

Mereka berujar bersama.

Sejin mendesah halus. Kepala ia sandarkan ke bahu Jinhyuk. Secuil jarak yang sempat hadir di antara mereka pun pupus. Jinhyuk mengeratkan genggaman sebelum berucap, “Masih inget kamu seseneng itu sampe nangis.” Kali ini fokus Jinhyuk berpindah ke pemandangan di luar kaca. “Aku nyesel banget sebelumnya sempet kontra sama ide kamu ... kalo tau ternyata semua kekhawatiranku nggak kebukti,” lanjutnya melirih di akhir kalimat. Ada sesal yang mengental di sana, dan Sejin tak suka mendengarnya.

“Hyuk ....” Segera Sejin menyela. Menggoyangkan tautan jari mereka. “Khawatir kan, wajar. Lagian kalo kamu khawatir artinya kamu peduli sama anggota baru di apart kita, nggak pengen dia nggak keurus karena kita sama-sama sibuk.”

“Tapi waktu itu kita sampe ribut hebat.”

“Yang penting kita selalu bisa komunikasiin semuanya setelah baikan.”

“Oke, Yang,” Jinhyuk berkata ditingkahi raut pasrah. Dia memalingkan muka dari citra laut yang kian dekat seiring putaran kincir memelan menuju akhir. Tatapan Sejin ternyata telah terlebih dahulu fokus ke arahnya. Ada keseriusan di sana. Jinhyuk menempelkan dahi mereka, sementara jarinya mencubit pipi si pemuda. “Makasih, ya.”

Kalimat itu punya lebih banyak arti dari yang terdengar, Sejin paham benar. Ia memejamkan mata beberapa sekon demi menikmati momen yang kini sedang ia alami. Tatkala kelopaknya terbuka lagi, Sejin meletakkan kedua telapak tangan di sisi pipi Jinhyuk, menekannya kencang sebagai balasan atas cubitan tadi. “Sama-sama. Emang udah seharusnya kamu berterima kasih ke aku.”

Mereka menderaikan tawa lagi. Lalu beranjak ke luar dari kabin kincir. Menyusuri jalan sambil bergandengan.

“Oh iya, tadi baru sampe tahun keempat. Tahun kelimanya gimana?” tanya tercipta di tengah transaksi dengan penjual gulali. Daripada langsung merespons, Jinhyuk memilih untuk membayar pesanan mereka. Dia sodorkan satu pada Sejin, meraih tangan mungilnya serta mengajak pacarnya duduk di bangku besi yang tersedia.

Sejin masih menanti jawaban. Gulali sudah digigit tiga kali.

“Hmm, tahun kelima ... alias hari ini. Kebetulan akhir minggu, kita bisa jalan-jalan. Aku sengaja nyelesein semua kerjaan minggu depan sekalian, biar benar-benar bebas kerjaan,” Jinhyuk akhirnya berbicara, “dan aku tau kamu juga ngelakuin ini. Betul, nggak?” Cengiran meningkahi ujarannya. Terlebih ketika Sejin mengangguk membenarkan. “Tapi sesungguhnya sih, Yang ... apa pun itu, kalo aku lakuin bareng kamu, bakal terasa bermakna. Aku nggak lagi ngalus, nih.”

“Iya. Ngerti, kok. Karena aku pun gitu ....” Suara Sejin lembut, namun sungguh-sungguh saat mengucapnya, “Selamat lima tahunan ya, Hyuk.”

Jinhyuk mengelus pucuk kepala Sejin. Penuh sayang. Penuh cinta. Penuh afeksi. Persis lima tahun yang lalu, kali pertama mereka merayakan keberlangsungan hubungan. Perasaan mereka masih sama, kalau tak bertambah besar.

“Selamat lima tahunan, Yang. Kalo bisa kita rayain sampe tahun keseribu.”