evolusi

—sejin, jinhyuk.

;

Biasanya, yang terjadi adalah runtunan peristiwa seperti ini:

Pada hari-hari senggang yang jarang, Sejin senang mengajak Jinhyuk berdiam di apartemen. Menonton sinema ditemani bermacam kudapan, berbincang santai dengan jemari saling bertaut, kepala Sejin nyaman di pangkuan Jinhyuk, atau sebaliknya. Mereka akan membahas perihal yang tak bisa dibicarakan hanya melalui sambungan telepon. Berlama-lama menatap muka dan netra satu sama lain, seakan mematri ingatan masing-masing dengan visualisasi yang tersaji.

Kesibukan sering kali membuat komunikasi mereka terbatas, kendati keduanya tinggal satu atap. Fokus yang semata tertuju pada pekerjaan di hadapan tanpa sadar mengurangi frekuensi mereka sekadar bercerita. Oleh karenanya, bila berkesempatan punya waktu bersama, Sejin lebih suka menghabiskannya berdua. “Momen yang berharga,” katanya pada Jinhyuk sambil tertawa.

Sementara Jinhyuk senang melakukan yang diinginkan Sejin. Mengabulkan apa pun permintaan lelaki kesayangannya.

Pagi itu diisi wangi menenangkan teh melati, berpadu dengan aroma gurih roti panggang bersalut mentega dari pantri. Jinhyuk menghampiri Sejin yang berdiri, kedua tangan penuh nampan yang kemudian diletakkan di meja depan televisi. Sejak bangun tadi, Jinhyuk belum bertukar kata dengan Sejin. Semalam ia terlelap saat Sejin sudah terlebih dahulu menyapa mimpi. Jadi, ia pilih opsi terbaik menurutnya; mendekap Sejin lebih dekat ke arahnya. Berbagi kehangatan di sepanjang malam. Selimut ditarik sebatas dagu, tak ingin lelaki yang lebih kecil terbangun karena kedinginan.

Sejin berpaling, sadar ada yang memerhatikan. Ia menemukan Jinhyuk dengan senyum terulas. Sejin balas tersenyum, cerah sekali, sampai Jinhyuk merasa butuh lindungan kacamata hitam.

“Kamu nunduk, dong.” Sejin berucap di antara jarak mereka yang kian rapat.

Mengangkat kedua alis, Jinhyuk memberi interogatif. “Hm? Kenapa?”

Sejin tampak mulai tidak sabar. Ada sedikit kerutan di dahinya. “Nggak apa-apa, nunduk aja.” Kalimat tersebut ditingkahi gestur yang di mata Jinhyuk, sangat menggemaskan. Ia jadi tergoda untuk menyerah dan menuruti kemauan Sejin dengan mudah. Tetapi, mereka telah absen bergurau nyaris tiga hari. Jinhyuk rindu mengusili pemuda manis ini.

Cengiran muncul sebelum dia buka suara, “Kamu mau cium yaaa?”

“Enggak! Apaan!” Sejin membalas sengit, namun rona semerah delima di dua belah pipinya mengingkari.

Tawa Jinhyuk berderai, sebelah lengannya lalu menggapai bahu Sejin yang memberi resistansi. “Cieee, nggak nyampe yaaa!” Melihat Sejin yang sudah menggembungkan pipi tanda ia betulan keki, Jinhyuk membawa lelakinya dalam pelukan. Sekalian sebagai pengganti ucapan selamat pagi.

Jinhyuk lalu melepas peluk pelan-pelan. Wajah Sejin masih merah. Dahi masih berkerut sebal. Dan Jinhyuk mendapati dirinya kembali jatuh cinta.

Pemuda kelahiran Juni itu menghela napas. Senyum masih bersikeras mengembang. Ia menunduk kemudian, merendahkan badan sesuai permintaan. Telapak tangan berpindah ke rahang Sejin, mengelusnya dengan buku jari. “Masih malu-malu aja. Padahal tinggal bilang iya.”

Kalimat itu jadi penutup sebelum bibir mereka bertemu.

Pagi ini, entah apa yang berbeda, tapi Jinhyuk merasa perlu waspada. Ia larut dalam pikiran, memastikan tiada hal terlupa agar liburnya tak terganggu. Agar waktu bersama Sejin tak terusik.

Wangi teh melati masih menyambutnya usai ke luar kamar tidur. Sejin terlihat sibuk menghidang roti panggang ke pinggan. Semangkuk sup ayam yang masih mengepul tersaji pula. Tidak ada yang berbeda dari biasa, tapi hati Jinhyuk seperti tak bisa tenang.

“Pagi,” ujar Sejin lembut. Memaksa Jinhyuk melupakan yang dia cemaskan. Dia berjalan menuju Sejin di dapur sambil menjawab sapaannya, sebelum berhenti tiba-tiba tatkala Sejin mengangkat kursi. Meletakkannya tepat di depan Jinhyuk. Lalu tanpa penjelasan naik ke atasnya, menunduk sedikit karena kini ia lebih tinggi dari Jinhyuk.

“Jinhyuk.”

“Ya?” Saat Jinhyuk mendongak, coba memahami tingkah ajaib kekasihnya, Sejin mendaratkan ciuman singkat tepat di bibir. Benak Jinhyuk langsung kosong. Dunia bagaikan berhenti berotasi.

“Hehe.” Sejin hanya terkekeh melihat Jinhyuk terdiam. Korslet. Jadi ini yang sejak tadi intuisinya coba ingatkan;

hati-hati, wahai Lee Jinhyuk. Kekasihmu sudah lelah dijahili dan akan menyerangmu duluan untuk pertama kali.