coriander

—sejin, jinhyuk.

tags: established relationship, kissing, frottage.

;

Kata Jinhyuk, dia pulang larut lagi malam ini. Lima hari terakhir selalu begitu, dan akan terus berlangsung hingga pekan depan. Kantornya sedang dipusingkan dengan bermacam ihwal pembukaan cabang baru. Jinhyuk yang kini menempati jabatan cukup strategis, tentu harus siap sedia guna memastikan prosesnya berjalan mulus.

Sejin paham. Ia pun disibukkan oleh bisnis yang kian menanjak. Rencana pengembangan kafe dengan konsep marimong adalah penyita atensinya. Namun, meski fokus utama diserap kerjaan, hasrat itu tetap minta perhatian. Tak bisa Sejin tepis. Benaknya sudah sesak. Berjejalan pinta supaya ia memuaskan kebutuhan esensial akan afeksi, akan sentuhan fisik, yang bukan berasal dari dirinya sendiri. Sejin ingin Jinhyuk.

Maka, ketika suaminya sampai rumah, Sejin lekas membuka pintu. Setengah berlari menyambut kecupan salam dari Jinhyuk. Mengubahnya jadi ciuman panjang nan menuntut. Jemari Sejin meraih rahang Jinhyuk sebagai usaha memperdalam tautan bibir mereka. Ia dapat merasakan prianya tertegun, tetapi ia abai. Sebab keterkejutan Jinhyuk tidak bertahan lama. Cuma sejenak. Setelahnya, Jinhyuk meletakkan tas kerja sembarang. Pinggang Sejin diraih dan ditarik hingga tubuh mereka tak berjarak. Dia menyesap bibir bawah Sejin halus, menggigitinya pelan. Senyum mengulas saat Sejin tak kuasa menahan desah.

“Beb,” panggil Jinhyuk usai pagutan mereka lepas. Ada binar jenaka di sepasang bola matanya sewaktu melanjutkan, “lagi pengen?”

Pipi Sejin masih sempat terpulas rona merah. Kepalanya masih sempat terangguk malu-malu. Seolah agresivitasnya barusan tak pernah ada. Sekadar khayalan Jinhyuk belaka. “Tapi, aku tau kamu capek ....”

“Iya, sih. Emang capek.” Kedik bahu mengikuti respons Jinhyuk. Pelukan pada Sejin dieratkan. Menyebabkan sisi depan badan mereka bergesek satu sama lain. Sejin rasanya ingin pingsan. “Kalo sampe penetrasi, aku nggak sanggup. Kayak gini aja, nggak apa-apa?” Jinhyuk menyelipkan kaki di antara paha Sejin, kembali memberi friksi yang mengantar erangan lolos dari keduanya. Tangannya berpindah ke pinggul sang suami, mengatur sudut pergerakan Sejin. Memastikan bagian yang dia maksud bersinggungan.

Suara sarat dosa menyapa telinga. Berulang. Menggema di sudut-sudut ruang. Pelakunya hanya menyeringai kurang ajar.

“Buka sekaliaan,” rengek Sejin nyaris terdengar frustrasi. Ia menarik-narik celana bahan Jinhyuk. Dagunya menggestur pula ke bawahan piyama motif marimong jingga miliknya. Intonasi yang belakangan jarang Jinhyuk peroleh itu menyadarkannya bahwa dia sangat rindu Sejin mode manja (dan penuh nafsu, wow).

Jinhyuk terkekeh, namun segera menuruti kemauan Sejin. Tidak ingin terlalu lama bermain-main, dia juga butuh ini. Jinhyuk butuh Sejin.

“Masuk kamar dulu, yuk?”